KRITERIA yang berhubungan dengan konsep arsitektur bioklimatik

KRITERIA FASAD BANGUNAN ARSITEKTUR BIOKLIMATIK TERHADAP BANGUNAN PERKANTORAN
Yulianti Putri Liesdasari1 , Dermawati2, Laksmi Utami3
1Mahasiswa Program Sarjana, Program Studi Arsitektur – FTSP, Universitas Trisakti
2Dosen Jurusan Arsitektur – FTSP, Universitas Trisakti
3Dosen Jurusan Arsitektur – FTSP, Universitas Trisakti
[email protected]
Pembangunan perkantoran semakin meningkat dan rancangan tersebut sudah harus menerapkan konsep yang memiliki sifat yang sustainable / berkelanjutan. Dari masa ke masa, konsep green architecture memiliki banyak konsep yang salah satunya adalah konsep Arsitektur Bioklimatik. Arsitektur Bioklimatik sudah diterapkan di beberapa negara terutama di negara Asia Tenggara. Arsitektur Bioklimatik tidak hanya diterapkan pada konsep di struktural tetapi juga fasad bangunannya. hal ini dikarenakan merancang fasad bangunan tidak hanya sekedar untuk estetika tetapi juga perlu ada pertimbangan-pertimbangan yang mempengaruhi terhadap lingkungan sekitarnya. Pada bangunan perkantoran dengan konsep arsitektur bioklimatik, dari segi jendela menggunakan ventilasi dan kaca green glass, untuk segi dinding berbentuk meliuk-liuk dan diberi tutupan agar tidak panas, dan untuk segi atap bangunan diberi bukaan yang lebar agar aliran udara dapat masuk ke dalam bangunan. Maka, kriteria fasad yang harus diperhatikan terhadap bangunan perkantoran yang berhubungan dengan konsep arsitektur bioklimatik yakni jendela, dinding, balkon, dan atap bangunan.

Kata Kunci: Perkantoran, Fasad, Arsitektur Bioklimatik
ABSTRACT

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Development in office building needs are increasing and the design has applied with sustainable architecture. From time to time, green architecture concept has many concepts which is one of the concept is Bioclimatic Architecture. Bioclimatic architecture has been applied in several country especially in Southeast Asia. Bioclimatic architecture not only focused in structural but also the building façade. This is the due of designs of façade not only used as aesthetic but also take into consider affect the surrounding environments. In office buildings with bioclimatic architecture, in terms of windows using ventilation and green glass, for the part of walls has a curvy shape and given window coverings, and for the rooftop building given wide openings. So, the criteria of façade which must be considered in office building which is related with bioclimatic architecture are window, wall, balcony and rooftop building.

Key words: Office, façade, Bioclimatic Architecture.

Program Studi S1 Arsitektur
FTSP – Universitas Trisakti
Jakarta MK: Publikasi Ilmiah Pembimbing Utama: Dr.Ir. Dermawati, MTA ……….

Nama : Yulianti Putri Liesdasari Pembimbing Pendamping : Ir. Laksmi Utami, MS ……….

NIM : 052.0013.00075 Ka. Prodi : Dr. Ir. Etty R. Kridarso,MT ……….

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Di era globalisasi ini, kebutuhan-kebutuhan terhadap bangunan semakin meningkat dan memiliki kualifikasi bangunan yang cukup ketat terutama bangunan perkantoran di Jakarta.

“Tahun ini ekspektasi ada 12 kantor baru yang memiliki luas total 270.000 meter persegi,” ujar Senior Associate Director Colliers Internasional Ferry Salanto saat konferensi pers di Jakarta, Selasa (9/1/2018).

Saat ini, bangunan-bangunan perkantoran baru yang dibangun dirancang dengan aturan-aturan dan tolok ukur yang berlaku dikeluarkan oleh Green Building Council Indonesia (GBCI). Para arsitek zaman sekarang merancang bangunan-bangunan yang memiliki sifat yang green. Konsep Green Architecture dan berkelanjutan memiliki banyak bentuk dan tema salah satunya adalah Arsitektur Bioklimatik.

Perancangan dengan tema arsitektur Bioklimatik tidak hanya membahas mengenai penghematan energi dan aspek dalam struktural saja, tetapi arsitektur bioklimatik juga memiliki ciri khas fasad yang didasari pergerakan alam seperti angin, matahari, dan sebagainya
Tujuan Penelitian
Tujuan dari penulisan ini adalah untuk mendalami ciri khas terhadap kriteria-kriteria dan fasad bangunan perkantoran dengan pendekatan arsitektur bioklimatik
Perumusan Masalah
Walaupun dari segi struktural terhadap beberapa bangunan kantor swasta yang sudah memenuhi standar-standar yang diberlakukan oleh Green Building Council Indoneia (GBCI) sejak tahun 2009. Aspek fasad bangunan sangat penting untuk dipertimbangkan.
Permaslahan dalam penelitian ini lebih difokuskan terhadap satu aspek yakni fasad bangunan dengan tipologi perkantoran dengan pendekatan arsitektur bioklimatik.

Pertanyaan Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah yang ada, maka pertanyaan penelitian yang diteliti adalah “kriteria-kriteria apa saja yang perlu diperhatikan dari segi elemen fasad bangunan perkantoran dengan pendekatan arsitektur bioklimatik?”
KAJIAN TEORI
Kantor
Kata “kantor” berasal dari bahasa Belanda yakni “kantoor” yang juga diserap dari bahasa Perancis “Comptoir”. Menurut Moekijat (1997:3), kantor adalah setiap tempat yang biasanya dipergunakan untuk melaksanakan pekerjaan tata usaha, sedangkan menurut Prajudi Atmosudirjo (1982:25), kantor adalah unit organisasi terdiri atas tempat, staf personil, dan operasi ketatausahaan guna membantu pimpinan. Maka, dapat disimpulkan bahwa kantor adalah bangunan yang berfungsi sebagai tempat yang digunakan untuk perniagaan atau perusahaan yang digunakan sehari-hari.

Arsitektur Bioklimatik
Arsitektur bioklimatik merupakan suatu pendekatan yang mengarahkan arsitek untuk mendapatkan penyelesaian desain dengan memperhatikan hubungan antara bentuk arsitektur dengan lingkungannya dalam kaitanyan iklim daerah tersebut. Pada akhirnya bentuk arsitektur yang dihasilkan juga dipengaruhi oleh budaya setempat, dan hal ini akan berpengaruh pada ekspresi arsitektur yang akan ditampilakan dari suatu bangunan, selain itu pendekatan bioklimtaik akan mengurangi ketergantungan karya arsitektur terhadap sumber – sumber energi yang tidak dapat dipengaruhi.

Dalam laman Center Fore Renewable Energy Sources and Saving bahwa arsitektur bioklimatik adalah konsep yang mengacu pada desain bangunan dan ruang (interior,eksterior, dan ruang luar) berdasarkan iklim lokal, yang bertujuan untuk memberikan kenyamanan termal dan visual, memanfaatkan energi matahari dan sumber lingkungan lainnya.
Elemen dasar desain bioklimik adalah sistem surya pasif yang dimasukkan ke bangunan dan sumber lingkungan (contoh: matahari, udara, angin, vegetasi, air, tanah, dan langit) untuk pemanasan, pendinginan dan pencahayaan bangunan.

Prinsip-prinsip arsitektur bioklimatik menurut Ken Yeang (1994):
Meminimalkan ketergantungan pada sumber energi yang tak dapat diperbaharui.

Penghematan energi dari segi bentuk bangunan, penempatan bangunan dan pemilihan material.

Mengikuti pengaruh dari budaya setempat.

Hal-hal yang perlu diperhatikan baik dari segi arsitektural terhadap pendekatan arsitektur Bioklimatik, yakni:
Penempatan Bukaan Jendela
Bangunan tingkat tinggi mendapatkan penyinaran matahari secara penuh dan radiasi panas. Orientasi bangunan sangat penting untuk menciptakan konservasi energi. Secara umum, susunan bangunan dengan bukaan menghadap utara dan selatan memberikan keuntungan dalam mengurangi insulasi panas. Orientasi bangunan yang terbaik adalah meletakkan luas permukaan bangunan terkecil menghadap timur – barat memberikan dinding eksternal pada luar ruangan atau pada emperan terbuka. Kemudian untuk daerah tropis peletakan core lebih disenangi pada poros timur-barat. Hal ini dimaksudkan daerah buffer dan dapat menghemat AC dalam bangunan.

Penggunaan Balkon
Menempatkan balkon akan membuat area tersebut menjadi bersih dari panel – panel sehingga mengurangi sisi bagian yang panas Karena adanya teras – teras yang lebar akan mudah membuat taman dan menanam tanaman yang dapat dijadikan pembayang sinar yang alami, dan sebagai daerah fleksibel akan mudah untuk menambah fasilitas – fasilitas yang akan tercipta dimasa yang akan datang.

Desain pada Dinding
Penggunaan mebran yang menghubungkan antara bangunan dengan lingkungan sekitarnya dapat dijadikan sebagai kulit pelindung.

Pada daerah tropis dinding luar harus bisa digerakkan yang mengendalikan dan cross ventilation untuk kenyamanan dalam bangunan desain dinding pada bangunan bioklimatik.

Fasad
Fasad merupakan tampak, kulit luar ataupun tampang bangunan, karena façade bangunan ini merupakan yang paling sering diberi penilaian oleh para pengamat tanpa memeriksa terlebih dahulu keseluruhan bangunan baik di keseluruhan sisi luar bangunan, maupun pada bagian dalam bangunan (Prijotomo 1987:3).

Menurut Krier (1988:78) elemen-elemen arsitektur pendukung fasad, yaitu sebagai berikut :Jendela
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam penataan jendela façade, yaitu sebagai berikut:
Proporsi geometris façade;
Penataan komposisi;
Memperhatikan keharmonisan proporsi geometri;
Karena distribusi jendela pada façade, salah satu efek tertentu dapat dipertegas atau bahkan dihilangkan;
Jendela dapat bergabung dalam kelompok-kelompok kecil atau membagi façade dengan elemen-elemen yang hampir terpisah dan membentuk simbol tertentu.

Dinding
Penataan dinding juga dapat diperlakukan sebagai bagian seni pahat sebuah bangunan. Bagian khusus dari suatu bangunan dapat diekspos dengan latar depan dan latar belakang dapat ditentukan.

Atap
Atap merupakan mahkota bangunan yang disangga badan bangunan, yaitu dinding.

METODOLOGI PENELITIAN
Metodologi
Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif yang dilakukan dengan tujuan untuk menggambarkan fenomena-fenomena yang ada.

Metode Penelitian
Melakukan studi literature dan pengumpulan data dari hasil studi banding mengenai fasad bangunan konsep arsitektur bioklimatik
Jenis Data dan Sumber Data
Data yang dibutuhkan adalah data yang memiliki hubungan dengan variable-variabel penelitian yang bersumber dari pengamatan dan pencarian literatur yang dilakukan oleh peneliti sebagai instrument variabel yang memudahkan proses penelitian.

Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan berbagai cara seperti studi pustaka, pengamatan dan pengumpulan data.

Analisis Data
Berdasarkan metode penelitian yang dipakai penulis, maka penelitian-penelitian yang didapatkan dengan cara membandingkan contoh-contoh studi kasus dan kemudian dideskripsikan dengan treknik triangulasi.

PEMBAHASAN
Konsep arsitektur bioklimatik dari segi jendela
Fasad bangunan arsitektur bioklimatik bangunan perkantoran pada jendela rata-rata menggunakan jendela yang memiliki ventilasi. Beberapa studi kasus bangunan yang
Jendela yang dibangun pada beberapa bangunan perkantoran yang menggunakan konsep bioklimatik menggunakan sistem Metric Bioclimatic Window (MBW) didesain dengan fungsi yang dikhususkan untuk ventilasi, perlindungan tata udara, dan penerangan alami.

Solaris Tower, Singapore
Menggunakan jenis jendela yang memiliki ventilasi agar udara dapat masuk ke dalam bangunan. Jendela bisa diatur lebar bukaanya tergantung kondisi cuaca.Mesiniaga Tower, Malaysia
Menggunakan jendela yang dilapisi dengan kaca green glass yang berfungsi mengurangi reduksi matahari yang masuk ke dalam bangunan.Angin digunakan untuk menciptakan kondisi dalam bangunan menggunakan Wind Wall yang diletakkan dalam bentuk parallel untuk angina yang besar dan mengarahkan angin tersebut masuk ke dalam ruang dalam.

Konsep arsitektur bioklimatik dari segi dinding bangunan
Solaris Tower, Singapore
Desain dinding pada bangunan solaris tower memiliki arti bentuk yang meliuk-liuk. Hal ini untuk mengontrol arah angin bangunan agar angin dapat masuk ke dalam bangunan.Mesiniaga Tower, Malaysia
Desain dingin bangunan Mesiniaga tower sebagian ditutup dengan lapisan baja untuk memilah pencahayaan yang baik dan melindungi masuknya air hujan.Dan setiap lantai dinding diberi vegetasi untuk melindungi bangunan dan menambah estetika bangunan.

Konsep arsitektur bioklimatik dari segi atap bangunan
Solaris Tower, Singapore
Solaris tower menggunakan ventilasi besar sebagai atap dan berfungsi sebagai masuknya udara ke dan pencahayaan yang masuk ke dalam bangunan.

Mesiniaga Tower, Malaysia
Atap bangunan bersifat semi-terbuka menggunakan natural ventilation dan atap bangunan diberi sirip-sirip atap agar angin masuk (wind scoop) untuk mengendalikan pengudaraan alami yang masuk ke dalam bagian gedung.

KESIMPULAN
Dalam penelitian ini memberikan jawaban atas pertanyaan penelitian yakni, hal yang perlu diperhatikan dari segi elemen fasad bangunan perkantoran dengan arsitektur bioklimatik terdiri dari jendela, dinding, balkon, dan atap bangunan. Keempat elemen fasad bangunan tersebut tidak hanya difungsikan sebagai estetika tetapi megembangkan elemen-elemen tersebut menjadi sesuatu yang dapat mengurangi penggunaan energi bangunan.

DAFTAR PUSTAKA
BIBLIOGRAPHY Atmosudirdjo, P. (1982). Administrasi dan Manajemen Umum. Jakarta: Ghalia Indonesia.

Ching, F. D. (2007). Architecture, Form, Space & Order. New York: John Wiley & Son.

Douglass, D., & Jaimes. (2015, September 28). Archdaily. Retrieved from www.archdaily.com: https://www.archdaily.com/774098/ad-classics-menara-mesiniaga-t-r-hamzah-and-yeang-sdn-bhd
Juwono, I. (2018, January 23). Upaya Mengembalikan Hijau. Retrieved from Tindak Tanduk Arsitek: https://tindaktandukarsitek.com/2018/01/23/upaya-mengembalikan-hijau/
Ken Yeang, Alan Balfour, Ivor Richards. (1994). Bioclimatic skyscrapers. Ellipsis.

Krier, R. (1988). Architectural Composition. New York: Rizzoli.

Moekijat. (1997). Administrasi perkantoran. Bandung: Mandar Maju.

Prijotomo, J. (1987). Komposisi Olah Tampang Arsitektur Kampung. Surabaya: Pusat Penelitian Institut Teknologi Sepuluh November.

x

Hi!
I'm Owen!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out