Interaksi Simbolik Sebagai Wujud Identitas Diri Pada Komunitas Lesbian Di Kota Banda Aceh Nur Anisah Program Studi Ilmu Komunikasi

Interaksi Simbolik Sebagai Wujud Identitas Diri Pada Komunitas Lesbian Di Kota Banda Aceh
Nur Anisah
Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Syiah Kuala
Kampus FISIP Unsyiah, Darussalam Banda Aceh
Email: [email protected]omAbstrak
Fenomena lesbian bukanlah hal yang baru, merea sudah ada sejak dulu. LGBT (Lesbian, Gay, Biseks, Transgender) yang tumbuh dan terus berkembang akhir-akhir ini di Kota Banda Aceh dianggap menjadi permasalahan besar. Komunitas lesbian di Banda Aceh mempunyai cara tersendiri untuk menunjukkan simbol-simbol ke masyarakat yang menunjukkan bahwa mereka merupakan seorang lesbian. Simbol-simbol yang digunakan para lesbian untuk dimana mereka menunjukkan interaksi bahwa mereka adalah seorang lesbian tentunya dengan cara yang berbeda-beda. Dalam berinteraksi para lesbian menggunakan komunikasi nonverbal dan verbal. Simbol verbal yang digunakan untuk menjaga kerahasian makna dalam berbicara agar tidak diketahui oleh orang lain. Sementara simbol nonverbal lebih sering menampakan diri di depan umum untuk menyampaiakan kode-kode tertentu yang menyatakan bahwa mereka ada dan memudahkan kaum lesbian mengenali anggota komunitas atau pelaku lesbian..
Kata Kunci : Interaksi Simbolik, Identitas Diri.

Pendahuluan
Beberapa Negara telah memberikan pengakuaan hak dan melegalkan pernikahan bagi pasangan LGBT (Lebsi, Gay, Biseksual dan Transeksual). Negara-negara tersebut diantaranya, Norwegia (1993), Belanda (1996), Belgia (2003), Spanyol (2005), Kanada (2005), Afrika Selatan (2006), Swedia (2008), Portugal (2009), Meksiko (2009), Islandia (2010), Argentina (2010), Uruguay (2010), Selandia Baru (2013), Perancis (2013), Denmark (2013), Inggris dan weles (2013), Brazil (2013), Scotlandia (2014), Luksemburg (2014), Finlandia (2014), Irlandia (2015) dan yang terakhir adalah Amerika Serikat (2015). Di Indonesia, kaum LGBT yang didukung oleh para aktivis dengan mengatasnamakan HAM, juga menuntut pengakuan dan legalitas pernikahan sejenis dari pemerintah.
Meski belum mendapatkan pengakuan dan legalitas dari pemerintah, praktek LGBT terus berkembang diberbagai wilayah di Indonesia, mereka telah membentuk organisasi ataupun komunitas LGBT, termasuk di Aceh. Aceh merupakan salah satu provinsi yang terletak di ujung barat pulau Sumatera, dan merupakan satu-satunya provinsi di Indonesia yang menerapkan pelaksanaan hukum syariat Islam, selain juga menerapkan pelaksanaan hukum positif yang berlaku umum di seluruh wilayah Indonesia. Sementara kota Banda Aceh merupakan salah satu kota di Provinsi Aceh yang menjadi ibukota provinsi Aceh.

LGBT (Lesbian, Gay, Biseks, Transgender) yang tumbuh dan terus berkembang akhir-akhir ini di Kota Banda Aceh dianggap menjadi permasalahan besar. Banyak media massa yang menampilkan pemberitaan tentang LGBT yang sedang marak di Banda Aceh dengan judul pemberitaan yang beraneka ragam. Salah satunya pemberitaan pada Koran serambi Indonesia pada tanggal selasa 1 maret 2016 mengenai “Semua Hotel Harus Diultimatum Pintu Masuk LGBT”. Dan permasalahan LGBT ini sedang menjadi topic di kalangan masyarakat.Salah satu komunitas yang sedang berada di tengah masyarakat Banda Aceh yaitu para lesbian bernaung di sebuah komunitas yang bernama “Violet Grey”. Komunitas ini telah diresmikan oleh wakil walikota Banda Aceh yang pada saat itu adalah Hj. Illiza Sa’aduddin jamal, namun hanya dengan tujuan untuk mensosialisasikan HIV dan AIDS. Komunitas lesbian di Banda Aceh mempunyai cara tersendiri untuk menunjukkan simbol-simbol ke masyarakat yang menunjukkan bahwa mereka merupakan seorang lesbian. Simbol-simbol yang digunakan para lesbian untuk dimana mereka menunjukkan interaksi bahwa mereka adalah seorang lesbian tentunya dengan cara yang berbeda-beda.

Dimana simbol yang diberikan lesbian tersebut belum tentu sama terhadap simbol apa yang dipahami oleh masyarakat atau perempuan normal. Seperti berbicara dengan suara keras, memiliki tindik di hidung, berambut pendek bagi yang berperan sebagai laki-laki atau sesuatu yang dinilai berbeda dari komunitas lesbian tersebutlah yang dikategorikan sebagai simbol (Austine, 2005:22). Dimana simbol-simbol tersebut mempunyai makna yang berbeda sehingga dapat memunculkan pemahaman bahwa mereka berbeda dari perempuan normal atau menyukai sesama jenis yaitu lesbian.

Fokus permasalahan pada penelitian ini lebih ditujukan kepada simbol interaksi komunitas lesbian. Lesbian dimaknai sebagai perempuan yang tertarik terhadap perempuan, dimana perilaku seksual diarahkan (disalurkan) pada perempuan, memiliki fantasi seks terhadap perempuan, memiliki ketertarikan secara emosional, memiliki gaya hidup yang tertarik terhadap sesama jenis, dan mengidentifikasi dirinya sebagai perempuan yang menyukai perempuan (Angelina, 2011:32).
Secara sosial kehidupan lesbian sama halnya dengan komunitas masyarakat lainnya. Aktivitas-aktivitas yang dilakukan oleh komunitas lesbian sama seperti apa yang dilakukan masyarakat pada umumnya, karena secara fisik tidak ada perbedaan antara lesbian dengan perempuan normal. Terbukti tidak sedikit komunitas lesbian menempati berbagai profesi baik secara plolitisi, birokrat, artis, atau profesional lainnya (Susilandari, 2004:127).

Penelitian ini bermaksud untuk menjawab pertanyaan bagaimana bentuk simbol interaksi komunitas lesbian di Kota Banda Aceh, dan mengkaji penggunaan simbol-simbol interaksi tersebut sebagai wujud identitas pada lesbian.

Komunitas
Definisi komunitas adalah individu atau orang-orang yang mempunyai kesamaan karakteristik seperti kesamaan geografi, kultur, ras, agama, atau keadaan sosial ekonomi yang setara. Komunitas dapat didefinisikan dari lokasi, ras, etnik, pekerjaan, ketertarikan pada suatu masalah-masalah atau hal lain yang mempunyai kesamaan.

Komunitas dapat dibagi menjadi 3 Komponen:
Berdasarkan lokasi atau tempat, yaitu komunikasi yang terbentuk karena adanya interaksi diantara beberapa orang yang tinggal diwilayah yang sama.

Berdasarkan minat, yaitu adanya interaksi antara orang-orang yang memiliki minat yang sama pada satu bidang tertentu.

Berdasarkan Komuni, yaitu komunitas yang terbentuk berdasarkan ide-ide tertentu yang menjadi landasan dari komunintas itu sendiri.

Beberapa tujuan lahirnya komunitas
Untuk menyalurkan bakat dan kemampuan di bidang tertentu.

Untuk mempelajari hal-hal yang sebelumnya belum diketahui atau terpikirkan sebelumnya
Sebagai wadah dalam membuka diri terhadap perkembangan teknologi dan hal- hal baru.

Lesbian
Lesbian adalah sebuah hubungan emosional yang melibatkan rasa, cinta dan kasih sayang dua manusia yang memiliki jenis kelamin sama yakni perempuan. Tidak semua lesbian dapat dikenali sejak masa kanak-kanak, tetapi beberapa karakteristik dapat memberikan dugaan bahwa mereka akan menjadi homoseks, diantaranya sifat tomboy (Tobing, 1987:53).

Kelompok lesbian, memiliki kode khusus dalam berkomunikasi. Hal ini dimaksudkan untuk membedakan antara lain lesbian senior dengan perempuan yang masih bertanya-tanya tentang orientasi seksual mereka. Pembedaan ini dilakukan agar jelas arah mereka berbicara dan bergaul, dan paling penting adalah agar tidak ada terjadi saling menyakiti perasaan.

Dalam pandangan islam perbuatan homoseksual merupakan perbuatan tak terpuji dan ini¬†¬†telah terjadi jauh sebelum Allah SWT mengutus Rasulullah sebagai rahmat bagi sekalian alam, yaitu kurang lebih empat belas abad yang lalu Allah SWT mengutus nabi Luth A.S kepada kelompoknya untuk mengajak mereka kejalan yang benar dan agar mereka meninggalkan perbuatan homoseksual ini. Tetapi mereka menolak sehingga Allah memusnahkan mereka dari muka bumi. Kisah nabi Luth A.S ini bisa kita temukan di beberapa surat di dalam al-Qur’an maupun hadits.

Teori Interaksi Simbolik
Penelitian ini menggunakan Teori interaksi simbolik. Esensi dari interaksi simbolik yakni adalah suatu aktivitas yang merupakan ciri khas manusia yaitu komunikasi atau pertukaran simbol yang diberi makna (Mulyana, 2003:59). Paham interaksionisme simbolik memberikan banyak penekanan pada individu yang aktif dan kreatif ketimbang pendekatan-pendekatan teoritis lainnya. Paham interaksionisme simbolik menganggap bahwa segala sesuatu tersebut adalah virtual. Semua interaksi antar individu manusia melibatkan suatu pertukaran simbol.
Teori interaksionisme simbolik merupakan hasil dari pemikiran George Herbert Mead (1863-1931). Dalam terminology George Herbert Mead, setiap isyarat non verbal dan pesan verbal yang dimaknai berdasarkan kesepakatan bersama oleh semua pihak yang terlibat dalam suatu interaksi merupakan satu bentuk simbol yang mempunyai arti yang sangat penting. Perilaku seseorang dipengaruhi oleh simbol yang diberikan oleh orang lain, demikian pula perilaku orang tersebut. Melalui pemberian isyarat berupa simbol, maka kita dapat mengutarakan perasaan, pikiran, maksud, dan sebaliknya dengan cara membaca simbol yang ditampilkan oleh orang lain secara konstan mencari “petunjuk” mengenai tipe perilaku apakah yang cocok dalam konteks itu dan mengenai bagaimana menginterpretasikan apa yang dimaksudkan oleh orang lain. Interaksionisme simbolik, mengarahkan perhatian kita pada interaksi antar individu, dan bagaiman hal ini dipergunakan untuk mengerti apa yang orang lain katakan dan lakukan kepada kita sebagai individu.

Menurut Ralph Larossa dan Donald C. Reitzes (1993) dalam West-Turner (2008:96), interaksi simbolik pada intinya menjelaskan tentang kerangka referensi untuk memahami bagaimana manusia, bersama dengan orang lain, menciptakan dunia simbolik dan bagaimana cara dunia membentuk perilaku manusia. Interaksi simbolik ada karena ide-ide dasar dalam membentuk makna yang berasal dari pikiran manusia (Mind) mengenai diri (Self), dan hubungannya di tengah interaksi sosial, dan tujuan bertujuan akhir untuk memediasi, serta menginterprestasi makna ditengah masyarakat (Society) dimana individu tersebut menetap.

Karena tujuan dari interaksi menurut interaksi simbolik adalah memang untuk menciptakan makna yang sama. Hal ini sesuai dengan tiga dari tujuh asumsi karya Herbert Blumer (1969) dalam West-Turner (2008:99) dimana asumsi-asumsi itu adalah sebagai berikut:
Manusia bertindak terhadap manusia lainnya berdasarkan makna yang diberikan orang lain kepada mereka.
Makna diciptakan dalam interaksi antar manusia.

Makna dimodifikasi melalui proses interpretif.

Metode Penelitian
Penelitian ini dilakukan di kota Banda Aceh. Alasan peneliti mengambil lokasi penelitian di wilayah tersebut dengan pertimbangan bahwa adanya perkembangan dan perubahan yang terjadi di Banda Aceh memungkinkan adanya perubahan sosial yang terjadi dalam beberapa perempuan-perempuan termasuk pada perilaku seks dan interaksi sosialnya yaitu lesbian.

Penelitian ini merupakan penelitian dengan jenis deskriptif kualitatif. Penelitian dengan metode deskriptif yaitu penelitian yang tidak mencari atau menjelaskan hubungan, tidak menguji hipotesis atau membuat prediksi.
Objek dalam penelitian ini adalah interaksi simbolik yang digunakan dalam komunitas lesbian, yaitu terkai dengan pemakaian simbol-simbol di antara komunitas lesbian di Banda Aceh. Subjek pada penelitian ini adalah pelaku lesbian, yaitu komunitas lesbian di Banda Aceh. Berdasarkan subjek penelitian di atas, selanjutnya ditentukan beberapa informan yang dipilih dengan menggunakan teknik purposive. Informan memberikan data primer yang berkaitan llangsung dengan focus penelitian.

Wawancara dilakukan pada informan yang telah ditetapkan oleh peneliti sebagai berdasarkan subjek penelitian. Subjek penelitian tersebut dijadikan informan utama atau sumber data utama, dengan kriteria:
Pelaku Lesbian, yaitu telah menjadi lesbian minimal selama 1 tahun.

Bergabung kedalam komunitas lesbian yang ada di Banda Aceh.

Analisis data merupakan proses menyusun data agar dapat ditafsirkan. Menyusun data berarti menggolongkannya dalam pola, tema atau kategori. Untuk lebih jelasnya langkah analisis data dilakukan sebagai berikut:
Data yang diperoleh dari hasil wawancara biasanya berupa opini dan informasi serta catatan perilaku interaksi semuanya ditulis oleh peneliti sebagaimana adanya dalam catatan di lapangan.

Hasil wawancara dan pengamatan serta dokumentasi yang telah disusun dan direduksi dijadikan bahan guna menginterpretasikan dengan acuan dan nilai agar terstruktur.

Selanjutnya hasil rangkuman dari wawancara dan pengamatan dapat diinterpreasikan. Pada tahap ini data sudah tersusun menurut kategori interaksi simbolik pada komunitas lesbian.

Pada tahap terakhir peneliti membuat kesimpulan dengan cara mengabstraksi keseluruhan makna.

Hasil Penelitian Dan Pembahasan
Kelima informan dari yang peneliti amati serta wawancarai, terjadi komunikasi yang cukup efektif dalam komunikasi interpersonal dengan sesamanya, dengan adanya kesamaan latar belakang mereka sebagai seorang lesbi. Terjadi keterbukaan (openness), empati (empathy), sikap mendukung (supportiveness), sikap positif (positiveness), dan kesetaraan (equality) (Augustine, 2005:137).
Sikap keterbukaan terjadi dalam sesama mereka karena adanya kesamaan latar belakang mereka biasanya. Hanya saja terkadang sedikit terjadi hambatan dalam keterbukaannya hanya karena ada beberapa orang yang sering bergabung dalam keseharian teman-teman lesbi, akan tetapi tidak mengakui mereka adalah seorang lesbi. Hambatan dalam keterbukaan mereka terkadang juga terjadi karena perbedaan golongan mereka, biasanya terjadi dengan lesbi Femme dengan lesbi Butch dan saling menutup diri mereka akan berakhir ketika mereka mulai berteman dekat dengan sesama mereka atau adanya rasa ketertarikan diantara mereka dan akhirnya komunikasipun berjalan efektif dalam keterbukaan diri mereka. Sikap empatipun menjadi salah satu ciri mereka, karena teman-teman lesbi tetap selalu mendukung teman-teman lesbi yang lainnya dalam berbagai aspek, apalagi didalam ruang lingkup daerah yang cukup ketat syariatnya.
Seperti dalam aspek hubungan percintaan dengan sesamanya, bila terjadi kekerasan didalamnya, teman-teman lesbi, langsung turun tangan untuk mendukung, mendengar ceritanya secara langsung. Terlihat juga kepedulian teman-teman lesbi dari komunitas terkait ini terhadap mereka yang menjajakan diri adalah dengan penyuluhan mengenai penyakit menular berbahaya, yaitu AIDS. Ini berarti didalamnya juga ikut komunikasi interpersonal yang efektif, adanya sikap saling mendukung antara mereka.
Faktor lain keberhasilan dalam komunikasi interpersonal mereka dari hasil observasi dan wawancara peneliti dengan teman-teman lesbi adalah sikap positif yang selalu ditunjukan dengan sesama mereka. Dari mulai menghargai teman-teman sesama lesbi, menghargai orang lain, termasuk mereka dengan peneliti, peneliti merasa cukup dihargai oleh mereka dan mereka tidak menaruh curiga terhadap sesama lesbi yang baru dikenalnya, apalagi bila mereka saling tertarik, baik itu secara langsung maupun melalui media sosial.
Sikap lain yang juga cukup penting mendukung efektivitas komunikasi interpersonal diantara teman-teman sesama lesbi adalah kesetaraan diantara mereka. Dengan memiliki kesamaan identitas bahwa mereka adalah seorang lesbi, maka mereka cukup mengakui pentingnya kehadiran teman lesbi yang lainnya. Seperti saling menjaga komunikasi dengan sesama mereka, dengan adanya pertemuan rutin sebulan sekali dengan sesama lesbi di Banda Aceh, juga pertemuan tahunan yang sampai saat ini juga masih terus dilakukan untuk melakukan pertemuan dengan sesama lesbi se-Aceh.

Hasil dari penelitian di atas, dapat diketahui bagaimana bentuk interaksi simbolik lesbi dengan sesama. Bercerita mengenai komunikasi yang terjadi dengan sesama lesbi termasuk didalamnya adalah mengenai hambatan-hambatan yang terjadi ketika berkomunikasi.
Komunikasi antarpribadi memiliki beberapa karakteristik tertentu. Karakteristik utama adalah mengenai diri dan bagaimana posisi diri dalam menyikapi dirinya sendiri. Dimana permasalahan yang timbul dalam dirinya sendiri adalah menyukai sesama jenis atau biasanya disebut homoseksual. Dalam hal ini menyukai sesama lelaki disebut juga lesbi. Karakteristik selanjutnya disebutkan bahwa, komunikasi antar pribadi tergantung bagaimana komunikan dapat bertindak kepada komunikator.
Ketika komunikator dapat berkomunikasi dengan merasa aman dan nyaman terhadap komunikan, maka dapat dipastikan komunikasi antar pribadi yang terjadi dapat berjalan sesuai dengan pesan ingin disampaikan. Sesuai dengan hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti dapat diidentifikasi bahwasanya keseluruhan informan merasa tingkat kenyamanan paling tinggi apabila mereka melakukan komunikasi bersama anggota komunitas atau sesama lesbi.
Melihat dari permasalahan pada penelitian ini yaitu interaksi simbolik sebagai wujud identitas diri pada komunitas lesbian maka teori interaksi simbolik terbukti kebenarannya. Karena setiap isyarat non verbal dan pesan verbal yang dimaknai berdasarkan kesepakatan bersama oleh semua pihak yang terlibat dalam suatu interaksi merupakan satu bentuk simbol yang mempunyai arti yang sangat penting. Perilaku seseorang dipengaruhi oleh simbol yang diberikan oleh orang lain, demikian pula perilaku orang tersebut. Melalui pemberian isyarat berupa simbol, maka kita dapat mengutarakan perasaan, pikiran, maksud, dan sebaliknya dengan cara membaca simbol yang ditampilkan oleh orang lain secara konstan mencari “petunjuk” mengenai tipe perilaku apakah yang cocok dalam konteks itu dan mengenai bagaimana menginterpretasikan apa yang dimaksudkan oleh orang lain. Interaksionisme simbolik, mengarahkan perhatian kita pada interaksi antar individu, dan bagaiman hal ini dipergunakan untuk mengerti apa yang orang lain katakan dan lakukan kepada kita sebagai individu. (George Herbert Mead: 1863-1931).
Untuk interaksi simbolik sendiri penampilan justru mengalami estetitasi, “estetitasi kehidupan sehari-hari,” dan, bahkan gerakan tubuh/diri pun justru mengalami estetisasi tubuh (Anthony, 1993:113). Tubuh/diri dan kehidupan sehari-hari pun menjadi sebuah proyek, benih penyemaian lesbia hidup. “Kamu berlesbia maka kamu ada” adalah ungkapan yang mungkin cocok untuk melukiskan kegandrungan manusia modern akan lesbi. Itulah sebabnya industri lesbian hidup untuk sebagian besar adalah industri penampilan.
Dalam ungkapan Chaney, “penampakan luar” menjadi salah satu situs yang penting bagi lesbian hidup. Hal-hal permukaan akan menjadi lebih penting dari pada substansi. Lesbia dan desain menjadi lebih penting dari pada fungsi. Lesbian menggantikan substansi, kulit akan mengalahkan isi. Pemasaran penampakan luar, penampilan, hal-hal yang bersifat permukaan atau kulit akan menjadi bisnis besar lesbia hidup (Chaney, 1996: 15-16).
Jadi berdasarkan hasil penelitian, beberapa narasumber dapat menyatakan identitas dirinya pada masyarakat melalui interaksi simboliknya. Lesbian yang memiliki pemahaman konsep diri yang benar, lebih mudah untuk membuka diri atau melakukan coming out.Rekomendasi Untuk Menekan Perkembangan Komunitas Seksual Di Banda Aceh
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka peneliti dapat memberikan beberapa rekomendasi sebagai berikut:
Masyarakat diharapkan lebih peka terhadap perubahan sikap perilaku masyarakat di sekitar lingkungan mereka.

Pihak keluarga perlu memberikan pemahaman tentang agama yang lebih kepada anak-anaknya terutama mengenai kodrat sebagai manusia.

Membangun keterbukaan komunikasi kepada anak dalam menjalani kehidupan.
Dengan adanya penelitian ini maka diharapkan kepada pemerintah dan pihak terkait lainnya memberi perhatian lebih dalam menanggulangi dan mensosialisasikan mengenai LGBT terhadap pelajar, mahasiswa dan seluruh kalangan masyarakat sebagai upaya pencegahan perkembangan LGBT, karena melalui perilaku LGBT dapat menyebabkan penularan virus dan penyakit kelamin, seperti AIDS/HIV.

Simpulan
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan beberapa hal berikut:
Seluruh informan lesbian semuanya melakukan proses komunikasi simbolik dengan sesama di komunitas maupun di tempat umum. Untuk lesbian dengan sesama pasti terjadi bentuk komunikasi simbolik, untuk mencari teman sesaat atau pun teman yang akan terus bersama untuk berbagi informasi serta berbagi pengalaman mereka.

Penggunaan komunikasi verbal yang biasanya mereka gunakan pada saat komunikasi berjalan hanya untuk mengelabui orang lain agar tidak mengerti bahasa yang mereka gunakan. Bahasa verbal yang mereka gunakan mengadopsi bahasa dari kaum waria yang berteman dengan lesbian. Bahasa Verbal sendiri memiliki perbedaan setiap regional daerah dimana tempat lesbian itu berada. Tak hanya mengadopsi bahasa dari kaum waria fenomenal dan bahasa daerah juga menjadi adopsi dari bahasa verbal lesbian.

Sementara itu bahasa Non verbal atau simbol-simbol yang digunakan oleh kaum lesbian yang ada di Banda Aceh lebih kepada cara mereka mepresentasikan status label mereka kepada sesama anggota komunitas lesbian. Dengan cara berpenampilan sesuai dengan peran, melakukan simbol-simbol dan kode-kode tertentu ketika mereka bertemu di luar, menyepakati suatu simbol di lakukan oleh yang paling tua di komunitas. Simbol-simbol nonverbal lebih melekat pada lesbian agar mereka dapat dilihat dan di terima oleh masyarakat.

Untuk penggunaan simbol-simbol sebagai wujud identitas diri sebagai lesbian. menurut narasumber yang telah diwawancarai, mereka lebih kepada status dan label yang mereka perankan. Kalau yang menjadi butch mereka akan berlaku seperti laki-laki macho sedangkan untuk peran yang menjadi famme mereka akan berperan seperti wanita normal lainnya hanya saja orientasi seksnya yang berbeda. Pengguna-penggunaan simbol ini sering mereka gunakan saat mereka sedang berkumpul bersama, jalan bersama pacar dan melakukan aktivitas hari-hari.

Komunikasi simbolik yang terjadi pada lesbian cukup berhasil dengan efektifitas berhasil bila dilakukan oleh sesama lesbian itu sendiri. Dengan identitas dirinya pada masyarakat melalui interaksi simboliknya. Lesbian yang memiliki pemahaman konsep diri yang benar, lebih mudah untuk membuka diri atau melakukan coming out.

Buku
Agustine. 2005. All About Lesbian, Ardhanary Institute, Jakarta.

Budiarty, Astry. Gaya Hidup Lesbian (Studi Kasus Di Kota Makassar). Makassar. 2011. Earnest, Surabaya.

Littlejohn, Stephen W. 2011. Teori Komunikasi edisi 9. Jakarta: Salemba Humanika.

Rusanti, Dyah Ayu Harfi. Negosiasi Identitas Lesbian Dalam Masyarakat Heteroseksual. Semarang .2011.

Spencer, Colin. Sejarah Homoseksualitas. Kreasi Wacana. Yogyakarta. 2004
www.bpm.bandaacehkota.go.id di akses 1 Maret 2016 pukul 16.30 WIB.

http://www.bandarayakec.bandaacehkota.go.id/?page_id=23. Diakses: 3 Febuary 2016 pukul 11.44 WIB.

http://www.bpm.bandaacehkota.go.id. Diakses: 3 maret 2016 pukul 14.55 WIB.