Agama

Agama, sebagaimana dikatakan Feuerbach dalam Rakhmat, kebutuhan ideal bagi umat manusia. Agama berperan penentuan dalam kehidupan, manusia tidak dapat hidup dengan sempurna tanpa melalui bimbingan agama. Jika agama dipahami dalam kehidupan kolektif para penganutnya, agama menjadi sesuatu sangat sensitif, dapat melahirkan sikap fanatik dan merasa paling benar sendiri. Dengan cara pandang seperti ini, sikap itu dapat memicu lahirnya konflik. Agama tidak harus dipahami secara dogmatis belaka yang menjadikan agama sensitif terhadap konflik komunitas agama.
Menurut Manurung, konflik terjadi disebahagian wilayah Indonesia, termasuk Provinsi Maluku, dipicu berbagai aspek dan lebih kompleks, di antaranya komunitas beragama mengkristal dalam sentimen keagamaan. Disebabkan peran simbolisasi ornamental sebagai akibat kooptasi kekuasaan. Komunitas beragama menjadi kehilangan arah dan panutan. Sebab, koneksi komunitas dan pimpinan agama menjadi terputus karena intervensi kekuasaan. Agar disintegrasi bangsa tidak terjadi, komunitas Muslim-Kristiani seharusnya mampu bersikap arif, rasional dan apresiatif dalam membangun kehidupan beragama diarahkan dalam trilogi kerukunan, karena agama sebagai landasan, kekuatan moral spiritual dan etika dalam kehidupan beragama. Agama tidak harus dipahami secara dogmatis belaka, namun harus dipahami secara rasional dan objektif agar pluralitas agama dapat diterima sebagai suatu keniscayaan, sehingga kerukunan beragama dapat terwujud secara harmonis. Salah satu pendekatan relevan adalah komunikasi agama.
Komunikasi agama dianggap sebagai satu kebutuhan hidup paling mendasar, manusia dapat melakukan interaksi antar sesamanya dengan baik hanya dengan perantara komunikasi. Melalui interaksi manusia diperoleh informasi mengenai kebutuhan untuk memenuhi kelangsungan hidupnya di lingkungan sekitarnya. Dalam agama Islam pun, komunikasi merupakan persoalan urgen dan sangat esensial bagi manusia dalam menjalankan tugasnya sebagai “khalifah fi al-ardh” yaitu menegakan agama (hurasah al-din) dan mengatur serta mengelola alam (siyasah al-dun’ya) demi tercapainya kesejahteraan serta kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Untuk mencapai tujuan kehidupan manusia, komunikasi agama memungkinkan komunitas Muslim-Kristiani mewujudkan harmonisasi kehidupan beragama di Kepulauan Maluku, melakukan tindakan proses komunikasi melalui interaksi keterlibatan sosial, budaya, dan keagamaan berdasarkan kepercayaan dimiliki untuk mempertemukan kepentingan dan keinginan masing-masing. Komunikasi mana harus timbal-balik, dapat menciptakan kesamaan pemahaman untuk mencapai kesepakatan dan keputusan bersama. Tindakan komunikasi seperti itu hanya akan berlangsung secara baik dan efektif jika didasarkan atas kemauan baik (good will) kedua belah pihak (Muslim-Kristiani). Yang terpenting lagi adalah bagaimana proses komunikasi melalui interaksi itu dilaksanakan secara baik sehingga dapat mencapai tujuan hidup beragama yang harmonis di lingkungan sekitarnya.
Komunikasi agama menjadi penting sebagai media rekonsiliasi pada masa rehabilitasi pasca konflik komunitas Muslim-Kristiani. Inilah yang menjadi fokus kajian dalam penelitian dengan pertimbangan, di antaranya (a) Komunitas Muslim-Kristiani lebih cenderung memahami nilai-nilai ajaran agamanya secara emosional. Kurang menunjukkan tindakan keagamaan mengarah pada pembentukan keimanan, ketaqwaan dan keadilan sosial, (b) Penumpulan peran pemimpin agama. Peminpin agama seharusnya menjadi panutan dan control of life serta sumber inspirasi komunitas beragama, telah ditebas menjadi alat politique, (c) Masih adanya sikap eksklusivitas dari pemimpin agama terhadap agama lain, (d) Kebiasaan komunitas Muslim-Kristiani dalam beribadah mulai luntur, membangun kebersamaan semakin renggang dan jiwa persaudaraan secara internal maupun eksternal semakin mengendur, (e) Kemungkaran yang terjadi tetap dibiarkan dan tidak heran jika di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku komunitas Muslim-Kristiani sering terlibat tawuran dan perkelahian, (f) Masih adanya trauma psikologi dan segregasi penduduk atas dasar agama yang melanggengkan dendam, kebencian dan melemahnya ikatan kekerabatan yang menandai hilangnya identitas atau jati-diri serta percaya diri, dan (g) Adanya tindakan fanatisme agama, menumbuhkan belief atau saling curiga, prasangka, dan stereotype antarkomunitas Muslim-Kristiani.